Mendorong Keberhasilan Akademik dan Mencegah Perilaku Sosial Negatif di Kalangan Peserta Didik Melalui Pengembangan Kemampuan Pespective Taking

Sep 27,2017

Mendorong Keberhasilan Akademik dan Mencegah Perilaku Sosial Negatif di Kalangan Peserta Didik Melalui Pengembangan Kemampuan Pespective Taking

IMPROVE ACHIEVEMENT AND PREVENT NEGATIVE SOCIAL BEHAVIOR AMONG STUDENTS THROUGH DEVELOPING OF PERSPECTIVE TAKING SKILLS

Oleh: Eko Darminto, Yohana D. Prawitasari, Dani Handarini, Adi

Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang

ABSTRACT

Perspective taking ability, has long been recognized by psychologists and educators as a fundamental aspect of social competence in human interaction.This ability enabling individuals to establishing social relationship and meeting personal and others needs. Many studies have proved that perspective taking ability is positively correlated with ability of conflict resolution, psychological healthy, prosocial behavior, organizational behavior, individual development, academic performance, and negatively correlation with various kind of psychosocial problems especially agression or violence. Based on theory and the results of researchs on construct of perspective taking, can be formulated a hypothesis that developing perspective taking skills among students will prevent their negative behaviors and encourage success in various of life: personal, social, academic, and career. As we all know, that our education are currently attempting to solve some problems related to malladaptif behaviour and academic failure of student . For success in school (and in life), it is important for students to be able to take another person’s perspective.School guidance and counseling as a part of educational system certainly have a responsibility to solve that problems. This paper is intended to present an idea about the use of perspective taking paradigm as a conceptual framework for designing school guidance and counseling program to encourage student’s success.

Keywords: Perspective taking, academic success, social behavior, guidance and counseling

PENDAHULUAN

Mendorong keberhasilan akademik dan mencegah berbagai bentuk perilaku menyimpang di kalangan peserta didik dari berbgaai tingkatan pendidikan dapat dikatakan menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Kebutuhan ini dirasakan oleh banyak pihak bukan hanya dari kalangan pendidik tetapi juga orang tua, masyarakat, dan pemerintah. Sebagaimana diketahui, saat ini banyak pihak merasa prihatin dengan rendahnya capaian hasil belajar perserta didik beserta dengan berbagai bentuk perilaku negatif (kecurangan) untuk mencapai keberhasilan di sekolah. Demikian pula, maraknya berbagai bentuk tindak kekerasan, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan obat di kalangan peserta didik menjadi fenomena yang mengindikasikan adanya kebutuhan untuk memperbaiki moralitas di kalangan generasi muda. Meskipun telah ada upaya-upaya untuk meningkatkan keberhasilan akademik dan menghentikan berbagai bentuk perilaku negatif peserta didik, hasil-hasil yang dicapai dirasakan masih belum memuaskan.

Bimbingan dan Konseling Sekolah yang menjadi bagian integral dari sistem sekolah dan memainkan peran penting untuk membantu lembaga sekolah dalam menyelenggaralan pendidikan yang efektif, harus berpartrisipasi aktif untuk melakukan upaya-upaya untuk membantu sekolah dalam mendorong keberhasilan dan menangani berbagai bentuk perilaku negatif di kalangan peserta didik. upaya ini dapat dilakukan dengan merancang dan mengimplementasikan program-program layanan bimbingan dan konseling yang relevan dan efektif.

Pengembangan kemampuan mengambil perspektif orang lain – untuk bahasan sleanjutnya disingkat KMPO - dapat dijadikan sebagai kerangka pikir untuk merancang program bimbingan dan konseling untuk mendorong keberhasilan peserta didik dan mencegah atau menghentikan perilaku negatif mereka. Banyak pakar pendidikan dan psikologi serta hasil-hasil penelitian yang menyatakan pengaruh KMPO pada pembentukan perilaku sosial positif dan keberhasilan. Seorang ahli dalam bidang pendidikan, Ellen Galinsky (2010) telah melakukan sejumlah penelitian terhadap konstruk ini dan memperoleh kesimpulan bahwa kemampuan mengambil perspektif orang lain merupakan salah satu dari tujuh elemen kecakapan hidup dan merekomendasikan perlunya mengembangkan kecakapan tersebut kepada semua peserta didik.

Dalam pengertian yang sederhana, kemampuan untuk mengambil perspektif orang lain – untuk selanjutnya disingkat KMPO – menunjuk pada kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dalam pengertian yang lebih lengkap, KMPO adalah kemampuan untuk memahami kondisi mental orang lain (pikiran, perasaan, dan harapan/keinginanya) dalam suatu situasi tertentu dan kemudian dapat memprediksikan apa yang akan dilakukan oleh orang lain, serta dapat membentuk respon yang adaptif yang memperkembangkan hubungan dan mencegah konflik (Casanave, 2010; Dumentheil et al., 2010; Gelbach, Brinkoworth, & Wang, 2012; Roan, Gelbach, & Metcalf, 2012). Individu dengan KMPO tinggi cenderung lebih dapat menerima atau menghargai perbedaan pendapat, emosi, dan sikap dalam merespon situasi karena mereka dapat menempatkan dirinya ke dalam diri orang lain dan mengkoordiansikan berbagai perspektif menjadi perspektif bersama (Selman, 1980; 1989).

Banyak penelitian di sejumlah negara telah dilakukan untuk memeriksa dampak KMPO pada berbagai variabel perilaku. Sebagai contoh, Roan et al., (2009) melaporkan beberapa hasil penelitian yang membuktikan bahwa KMPO dapat meningkatkan harmoni dalam hubungan sosial, sikap positif, kerjasama, perilaku altruis, dan resolusi konflik; dan menurunkan stereotipe, perilaku impulsif dan agresif, dan prasangka. Beberapa pakar juga mengemukakan pengaruh KMPO dalam mempengaruhi individu untuk mencapai keberhasilan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti keberhasilan dalam kepemimpinan (Dey et al., 2010), menjadi warga masyarakat yang demokratis yang memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial (Reason, 2011). Beberapa hasil penelitian juga telah membuktikan bahwa peserta didik dengan KMPO tinggi cenderung lebih berhasil di sekolah (Chadwick dan Realston, 2010; Galinsky, 2010; Gelbach, Brinkworth, & Wang, 2012; Linck et al. (2012). Memperhatikan hasil-hasil penelitian tentang dampak KMPO pada keberhasilan akademik, Galinsky (2010) menekankan pentingnya peserta didik memiliki MPO tinggi untuk mencapai keberhasilan.

Hasil-hasil studi terdahulu dalam bidang psikologi perkembangan juga membuktikan bahwa KMPO memainkan peran yang fundamental dalam perkembangan, dalam arti bawa perkembangan manusia dalam berbagai domain (kognitif, afektif, dan perilaku) berjalan maju sesuai dengan kemampuan individu dalam mengambil perspektif orang lain (Moll & Meltzoff, 2011). Meningkatnya sensitivitas masyarakat terhadap berbagai tindak kekerasan(violence) yang banyak dilakukan oleh para pelajar yang cenderung semakin meningkat baik sifat maupun dampaknya, dan kebutuhan untuk menemukan metode intervensi yang efektif guna menanggulangi perilaku tersebut juga tekah mendorong banyak ahli untuk melakukan penelitian terhadap KMPO.

Pengembangan kemampuan PT itu sendiri sangatlah dimungkinkan, karena beberapa teori tentang KMPO menyatakan bahwa KMPO merupakan kemampuan yang dapat ditumbuh kembangkan. Program pengembangan kemampuan PT bukan hanya didasarkan pada fakta bahwa kemampuan PT dapat dikembangkan, tetapi juga karena beberapa anak dapat mengalami hambatan. Beberapa studi telah menemukan bahwa perkembangan PT dipengaruhi oleh faktor budaya (Wu & Keysar, 2007), gender (O’Brien et al., 2010), etnis (O’Brien et al., 2010), usia (Bengtsson & Arvidsson, 2010; O’Brien et al., 2010), kepribaian (Gehlbach, Brinkworth, & Wang, 2012), dan gaya pengasuhan yang tidak tepat (Manly, 2006). Epley & Caruso (2008) mengemukakan tiga faktor lain, yaitu: kegagalan mengaktifkan proses mental untuk secara aktif berpikir tentang keadaan mental orang lain, pemeliharaan kebiasaan egosentris, dan penyesuaian yang tidak akurat karena minimnya infomasi atau pengetahuan yang dimiliki.

Paper ini betujuan untuk mengetengahkan suatu pemikiran konseptual tentang penggunaan paradigma KMPO sebagai kerangka kerja bimbingan dan konseling sekolah untuk merancang program pelayanan dalam rangka mendorong keberhasilan dan menangani berbagai bentuk perilaku anti sosial di kalangan peserta didik.

HASIL KAJIAN

Sejumlah literatur telah mengemukakan definisi tentang KMPO dengan berbagai variasi sesuai dengan sudut pandang atau teori yang digunakan oleh penulisnya. Namun demikian, jika dirangkumkan, KMPO menunjuk pada kemampuan untuk memahami kondisi mental orang lain (pikiran, perasaan, motivasi, tujuan) dalam merespon suatu situasi dan kemudian mempredikasikan apa yang akan dilakukan oleh orang lain dan dapat membentuk tindakan antisipatif sehingga tidak memicu konflik dengan orang lain. Berikut adalah beberapa definisi KMPO yang dikutipkan dari beberapa literatur.

Beberapa ahli mendefinisikan KMPO sebagai kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain, atau melihat realitas dari mata orang lain (Casanave, 2010), kemampuan memahami dan menggabungkan perspektif diri sendiri dengan perspektif orang lain (Chadwick & Ralston, 2010), kemampuan membayangkan dunia dari sudut pandang orang lain, atau membayangkan diri sendiri ke dalam diri orang lain (Sun et al., 2011), kemampuan untuk mendeferensiasikan dan mengkoordinasikan perspektif diri dan perspektif orang lain (berbagai perspektif) (Selman, 1980; Selman & Yeath, 1989).

Gelbach (2011) mengidentifikasikan KMPOsebagai kemampuan untuk memasuki benak orang lain (step into the other’s shoes). Sedangkan Jillkuzma (2012) mendefinisikan KMPO sebagai bentuk pemahaman tentang kondisi mental orang lain, yang meliputi pikiran, perasaan, keinginan, motivasi, dan tujuan. Pemahaman ini selanjutnya digunakan untuk untuk tujuan memahami perilaku orang lain, memprediksikan apa yang akan dikatakan atau dilakukan oleh orang lain, dan memikirkan dan membentuk perilaku agar sesuai dengan kondisi mental orang lain. Jadi, KMPO memungkinkan individu untuk mengantisipasi perilaku dan reaksi orang lain. Berdasarkan pada pengertian ini maka Trotschel et al. memandang KMPO sebagai suatu pola pikir kognitif (mindset cognitive).

Dari beberapa definisi tersebut dapat ditemukan bahwa KMPO mengandung beberapa kemampuan yaitu: (1) dapat mengakui bahwa orang yang berbeda dapat memiliki pandangan, perasaan, minat, dan sikap yang berbeda terhadap situasi atau peristiwa yang sama; (2) dapat memahami atau mempersepsi pikiran, perasaan, minat, dan sikap orang lain dalam merespon suatu situasi; (3) dapat memprediksikan apa yang kemungkinan akan dikatakan atau dilakukan oleh orang lain; dan (5) dapat membuat tindakan antisipatif yang efektif dalam arti selaras dengan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diinginkan oleh orang lain.

Kajian tentang konstruk KMPO umumnya dimasukkan ke dalam teori kognitif, lebih khusus dalam perkembangan kognisi sosial. Dua teori kognisi sosial yang sangat sering digunakan untuk menjelaskan perkembangan KMPO adalah teori perkembangan kognitif dari Piaget dan teori pemahaman interpersonal dari Selman. Ke dua teori ini secara ekplisit menggambarkan konsep dan perkembangan KMPO dari periode anak hingga remaja. Selain dua teori tersebut juga ada teori lain, yakni Theory of Mind (ToM) dan Relational Frame Theory (RFT).

Dalam teori perkembangan kognitif (Rubenstein, 2012; Shaffer & Kip, 2010) dikemukakan bahwa KMPO merupakan keterampilan yang dihasilkan dari peralihan perkembangan dari egosentrisme dan pemusatan diri (centration) yang menuntut kemampuan berpikir operasional konkrit. Egosentrisme menyebabkan anak tidak mampu untuk mendeferensiasikan diri dengan lingkungan sosial, sedangkan pemusatan diri menunjuk pada ketidakmampuan untuk memahami fitur jamak suatu peristiwa. Dalam perspektif Piaget, KMPO mulai berkembang ketika anak telah mencapai usia tuiga tahun dan kemudian mencapai tingkat paling matang pada usia remaja.

ToM tergolong teori awal yang banyak digunakan dalam penelitian KMPO yang bersifat praktis, yang melibatkan perancangan program-program intervensi untuk meningkatkan KMPO pada anak-anak penyandang autis (McHugh et al., 2009). Teori ini memberikan penjelasan tentang tahapan perkembangan KMPO dan cara meningkatkan KMPO pada setiap tahapan perkembangan tersebut. Menurut teori ini, KMPO berkembang melalui lima tingkatan pemahaman informasional yang harus dikuasai oleh anak ketika ia belajar untuk mengambil perspektif orang lain, yakni: visual sederhana (tingkat 1), visual kompleks (tingkat 2), kesadaran bahwa pengetahuan muncul dari melihat (tingkat 3), keyakinan benar (tingkat 4), dan keyakinan salah (tingkat 5). Dikemukakan oleh Howlin et al. (1999), setiap tahapan kemampuan menyatakan KMPO yang berbeda, semakin tinggi tahapan, semakin tinggi KMPO anak. Pada KMPO tingkat 1, anak harus mengerti bahwa orang lain dapat memiliki pandangan yang berbeda terhadap sesuatu. Pada KMPO tingkat 2, anak harus mengetahui bahwa orang lain dapat memiliki pandangan yang berbeda pada obyek yang sama. Pada KMPO tingkat 3, anak dibantu untuk memahami bahwa pengetahuan diperoleh dengan melihat. KMPO tingkat 4 melibatkan keyakinan yang benar dan meramalkan tindakan atas dasar pengetahuan individu. KMPO tingkat 5 melibatkan pengetahuan informasional yang kompleks. ToM juga mendeskripsikan suatu skenario untuk meningkatkan kemampuan dari setiap tahapan tersebut.

Teori bingkai relasional (Relational frame theory, disingkat RFT) memberikan suatu penjelasan naturalistik dan analitik-fungsional tentang perkembangan (gejala) kognitif dan bahasa dalam arti pemerolehan respon relasional (Hayes et al., 2001). Secara lebih spesifik, McHugh et al. (2009) memberikan suatu deskripsi tetang RFT dalam hubungannya dengan perkembangan KMPO yang bersifat relasional. Perkembangan KMPO disokong oleh meningkatnya kompleksitas dalam kemampuan untuk memberi respon sesuai dengan bingkai relasi. Ada tiga bingkai relasi deictic yang tampak mendasar dalam perkembangan KMPO, yakni: “saya dan kamu,” “di sini dan di sana,” dan “sekarang dan nanti.” Bingkai relasi tersebut diyakini muncul sebagian melalui kebiasaan dalam merespon pertanyaan-pertanyaan “Apa yang sedang kamu lakukan di sana?” atau “Apa yang sedang saya lakukan di sini?” Meskipun bentuk dari pertanyaan-pertanyaan tersebut seringkali sama dari berbagai konteks, lingkungan fisiknya bisa berbeda. Apa yang relatif menetap dari berbagai peristiwa tersebut adalah sifat relasional dari “saya vs. kamu,” “di sini vs. di sana,” dan “sekarang vs. nanti.” Dalam rangkaian perkembangan kognitif dan bahasa, sifat relasional tersebut diabstraksikan melalui belajar berbicara tentang perspektif diri dalam hubungannya dengan perspektif orang lain. Sebagai contoh, Saya selalu berasal dari perspektif di sini, dan bukan dari perpektif orang lain disana. Untuk memahami ini kita dapat menengok kembali pada contoh skenario kemampuan KMPO tingkat 2 dalam perspektif ToM. Dua anak yang saling duduk berhadapan yang dipisahkan oleh sebuah meja dan disajikan sebuah gambar kucing di atas meja akan memperoleh pandangan yang berbeda terhadap gambar kucing tersebut. Satu anak melihat kucing dalam posisi yang benar (berdiri), sedangkan anak yang lain melihat kucing dalam posisi terbalik. Meskipun dua anak dalam contoh ini mengamati gambar yang sama, perspektif mereka bisa berbeda. Dengan kata lain, perspektif anak dari posisi “di sini” dapat berbeda dengan perpektif anak dari posisi “di sana.” Beberapa contoh lain adalah: “Saya di sini sekarang, dan kamu di sana nanti,” “Sekarang jam dua dan saya di rumah (di sini dan sekarang), tetapi Erika (kamu) masih di restoran (di sana, sekarang).” Dari sudut pandang RFT, aktivitas relasional tergeneralisasikan dan bukan kata-kata aktual itu sendiri.

Teori Selman tergolong yang paling banyak dirujuk dalam kajian tentang perkembangan KMPO. Menurut Selman (dalam Smith, 2009: 2), memahami perspektif orang lain sebagai suatu proses kognisi sosial yang sentral untuk memahami orang lain. Dalam proses ini individu membuat inferensi tentang kondisi afektif dan psikologis orang lain tanpa harus menyatakannya secara eksplisit. Proses ini juga melibatkan menahan pandangan sendiri dalam rangka untuk mempertimbangkan secara aktif pandangan orang lain, misalnya membayangkan sesuatu dari perspektif orang lain. Teori Selman juga dikenal dengan nama teori pemahaman interpersonal (interpersonal understanding) karena antara KMPO dan pemahaman interpersonal sangat berkaitan baik secara konseptual maupun praktis. Pemahaman interpersonal didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk memahami situasi sosial dalam arti perspektif jamak dari individu-individu yang terlibat di dalam interaksi sosial. Dengan kata lain, pemahaman interpersonal ditentukan oleh kompleksitas KMPO.

Dari sejumlah peneltiannya Selman memperoleh kesimpulan bahwa KMPO mulai berkembang pada usia tiga tahun dan mencapai puncaknya pada usia 12 tahun ke atas (Roan et al., 2011; Selman, 1980). Perkembangan dimulai dari fase egosentris, perspektif pihak satu, perspektif pihak dua, perspektif pihak tiga, dan perspektif sosial. Perkembangan ini berjalan mengikuti perkembangan usia dan kemampuan kognitif, meskipun selalu terdapat variasi individual yang disebabkan oleh pengalaman, bimbingan, dan latihan. Selman & Yeath (1989) juga memberikan definisi operasional yang mereka konseptualisasikan dalam bentuk strategi negosiasi interpersonal (interpersonal negotiation strategy). Strategi ini menjadi cara bagi individu untuk menangani konflik dalam situasi hubungan interpersonal. Strategi negosiasi interpersonal (SNI) melibatkan kemampuan untuk mengkoordinasikan perspektif sosial, dan berkembang sesuai dengan perkembangan KMPO. Sebagai contoh, anak yang berada pada taraf egosentris cenderung memperlihatkan pemahaman interpersonal yang tidak matang. Sebaliknya, anak lain yang telah mampu untuk mengkoordinasikan perspektif sosial secara simultan bisa menyadari bahwa orang lain memiliki suatu kehidupan psikologis internal yang tak kasat mata dan tak dapat disimpulkan secara obyektif.

Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk memeriksa hubungan dan dampak KMPO pada berbagai variabel perilaku dan keberhasilan individu mauoun kelompok dengan menggunakan berbagai macam subyek dari berbagai tingkat usia perkembangan. Sebagai contoh, berbagai studi eksperimen yang dilakukan terhadap para mahasiswa tahun pertama di berbagai perguruan tinggi di USA membuktikan bahwa KMPO dapat menurunkan stereotipe negatif (Galinsky & Moskowitz, 2000; Gallinsky & Gillian Ku, 2004; Weyant, 2007), meningkatkan perilaku altruis, bahkan meskipun individu berada di bawah resiko mendapatkan ancaman identitas sosial dan evaluasi negatif (Maner et al., 2002; Zeng Li, 2011), menurunkan perilaku egosentris (Epley, Caruso, & Bazerman, 2006), menangani kebuntuan dalam negosiasi interpersonal (Trotchell et all., 2011), dan menurunkan stereotip (Galinsky & Moskowitz, 2000).

Bengston & Arvidson (2010) melakukan suatu penelitian longitudinal yang melibatkan 209 anak usia 8-12 tahun (anak dan remaja) dan memperoleh temuan bahwa KMPO anak mempengaruhi reaksi emosionalnya. Dikemukakan bahwa anak dengan KMPO rendah cenderung memperlihatkan reaksi emosional ekstrem (sangat tinggi atau sangat rendah), sedangkan anak dengan kemampuan PT tinggi cenderung dapat mengatur reaksi emosionalnya secara adaptif. Penelitian terbaru dalam bidang psikologi sosial juga menyoroti peran PT dalam menangani keragaman seperti ras, gender, dan berbagai bentuk perbedaan aspek sosial yang lain (Davis & Maitner, 2010).

Roan et al., (2009) juga mengemukakan suatu hasil reviu terhadap sejumlah penelitian KMPO yang juga memberikan bukti-bukti yang konsisten. Seperti dilaporkannya, hasil-hasil penelitian terdahulu tentang KMPO membuktikan bahwa KMPO dapat meningkatkan pemahaman dan harmoni sosial (penelitian Deutsch, 1993), mengurangi stereotip dan mendorong sikap positif terhadap orang lain atau pihak luar (penelitian Galinsky & Moskowitz, 2000), menurunkan perilaku impulsif dan agresif (penelitian Richardson, Green, & Lago, 1998), mengembangkan kerjasama (penelitian Johnson, 1975), meningkatkan penalaran moral (penelitian Hoffman, 2000), meningkatkan perilaku altruis (penelitian Batson, Early, & Salvarani, 1995), menurunkan prasangka (penelitian Rokeach, 1960), dan memfasilitasi resolusi konflik (penelitian Deutsch, 1993).

Studi tentang KMPO juga berkaitan dengan KMPO dalam mempengaruhi keberhasilan kepemimpinan. Misalnya Reason (2011), menegaskan bahwa untuk dapat menjadi pemimpin yang efektif seseorang harus mampu belajar dari perspektif orang lain. Seorang profesor sosiologi di Pitzer College, Jose Calderon (2011), mengungkapkan bahwa dari pengalamannya ia memperoleh pemahaman bahwa kemampuan seseorang dalam mengambil perspektif orang lain mempengaruhi kemampuannya untuk berpartisipasi di dalam masyarakat, dan dengan cara itu maka ia akan memiliki akses untuk memasuki kekuasaan. Dicontohkannya, Barrack Obama bisa menjadi pemimpin yang berhasil karena kemampuannya dalam mengambil perspektif orang lain, khususnya dengan siapa ia bekerja.

Berdasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan PT mempengaruhi keefektifan dalam kepemimpinan, maka banyak usulan yang mengalamatkan pada perlunya sekolah mengimplementasikan suatu program pengembangan KMPO pada para siswanya guna mempersiapkan calon-calon pemimpin yang efektif di masa depan. Misalnya, Steen & VanderVeen (2005) menegaskan bahwa para siswa di sekolah perlu mendapatkan pelatihan KMPO bahkan jika perlu pelatihan itu menjadi bagian dari program sekolah dalam rangka membentuk pemimpin-pemimpin yang cakap dalam mengubah dunia. Bahkan, para ahli di Amerika memandang bahwa pengembangan KMPO di lembaga pendidikan saat ini dirasakan menjadi kebutuhan yang penting dan mendesak (Dey, et al., 2010).

Kajian KMPO juga berkaitan dengan isu pengembangan tanggung jawab pribadi dan sosial. Berdasarkan Pada kajian-kajian terdahulu tentang peran KMPO pada perilaku, para ahli yang tergabung dalam asosiasi perguruan tinggi Amerika yang disebut The Assiciation of American College and Univiersity (AAC&U) – menggalang suatu komitmen untuk mempersiapkan warga masyarakat yang memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial melalui program pengembangan KMPO bagi mahasiswa (di perguruan tinggi). Dalam konsepnya, tanggung jawab pribadi dan sosial tersebut mengandung lima dimensi, salah satunya – dimensi keempat – KMPO. Inti dari komitmen tersebut adalah bahwa perguruan tinggi perlu menciptakan iklim pendidikan di kampus yang dapat mendorong berkembangnya KMPO pada diri para mahasiswa. Komitmen tersebut muncul antara lain dari fakta adanya keragaman yang luas dalam diri manusia yang harus dihadapi oleh mahasiswa khususnya ketika mereka kelak menjadi pemimpin. Pengembangan KMPO bagi para juga dimaksudkan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk menangani tantangan global. Dalam hal ini KMPO dianggap sebagai suatu bentuk kompetensi global untuk menangani tantangan global.

Pembekalan kompetensi global tak hanya dipandang penting pada tingkat perguruan tinggi, tetapi juga bagi para peserta didik pada tingkat sekolah menengah. Seperti dikemukakan oleh Linck & Salmon (2012) dalam artikelnya yang berjudul “creating a culture of thinking that cultivate the perspective-taking disposition,” yang menegaskan bahwa KMPO menjadi semakin penting ketika lingkungan masyarakat menjadi semakin global. Standar masyarakat yang baik dan kesadaran sosial akan berkembang jika anak-anak diajar untuk memahami “mengapa” dan “bagaimana” menjadi agen perubahan masyarakat yang efektif. Oleh karena itu mendidik kompetensi global menyajikan suatu tantangan penting kepada para pendidik, khususnya untuk membantu peserta didik agar tidak kaku dalam memegang perspektif mereka sendiri dan secara tulus mau memahami perspektif orang lain dari konteks yang berbeda. Untuk memperkuat pernyataannya tersebut Linc & Salmon mengutip Mansilla & Jackson (2011) yang menyatakan bahwa para pendidik perlu menumbuh kembangkan kecenderungan untuk merawat dan menyayangi orang lain dan mengembangkan kemampuan untuk mengakui berbagai perspektif. Kecenderungan untuk mau mengakui perspektif orang lain merupakan persyaratan untuk memahami dan menerapkan tiga kompetensi global yang lain: mengeksplorasi lingkungan, mengkomunikasikan ide-ide secara efektif kepada orang lain dari latar belakang yang beragam, dan mengambil tindakan untuk meningkatkan keadaan.

Kajian tentang KMPO juga dikaitkan dengan upaya meningkatkan prestasi akademik perserta didik. Banyak ahli memandang bahwa KMPO dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan akademik. Sebagai contoh, Chadwick & Realston (2010) menegaskan bahwa KMPO merupakan salah satu kompetensi sosial yang sangat penting untuk mendukung interaksi dalam proses akademik di sekolah. Mereka juga melaporkan beberapa hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa siswa yang memiliki KMPO tinggi tentu akan lebih mudah memahami bacaan, memahami instruksi tertulis dari suatu tugas atau yang diberikan secara lisan oleh guru, dan dengan demikian ia dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan benar. Demikian pula, siswa yang memiliki KMPO tinggi akan dapat melakukan suatu interaksi sosial yang efektif dan menghindari konflik dengan teman-teman di sekolahnya, dengan gurunya, dan dengan orang tua atau keluarganya. Meningkatnya interaksi sosial dan tiadanya konflik antara siswa dengan orang-orang di sekelilingnya, baik di rumah, di sekolah, atau di lingkungan yang lebih luas, memungkinkan siswa memperoleh iklim belajar yang kondusif dan dapat menggunakan energinya secara optimal untuk belajar. Dikemukakan lebih lanjut bahwa peserta didik yang memiliki KMPO tinggi cenderung lebih mampu membangun lingkungan sekolah yang aman dan positif, menangani tekanan dari berbagai peristiwa belajar dan kehidupan, menemukan cara terbaik guna menangani frustrasi dan agresi, membangun tanggung jawab pribadi untuk membangun lingkungan sekolah yang aman untuk belajar.

Banyak ahli juga telah merekomendasikan pentingnya memberikan program pelatihan KMPO di sekolah guna membantu peserta didik menangani kegagalan akademik dan berbagai bentuk perlaku menyimpang lain seperti kecanduan rokok, penggunaan mariyuana, dan aktivitas seksual bebas (Ellickson, 1997). Gehlbach, Brinkworth, & wang (2012) juga menegaskan bahwa siswa perlu memiliki KMPO tinggi agar mereka lebih mencapai keberhasilan. Linck, et al. (2012) mengutip pernyataan Perkins (1992) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu konsekuensi dari berpikir, dan oleh karena itu kita perlu untuk mengembangkan kemampuan berpikir dalam diri peserta didik dalam suatu cara tertentu sehingga peserta didik menjadi lebih fleksibel dalam berpikir tentang diri mereka sendiri dan berpikir tentang orang lain. Menurut Gelbach, KMPO memainkan peran penting dalam pengalaman belajar di kelas/sekolah karena ia menyokong perkembangan keterampilan sosial dan keberhasilan akademik. Siswa dengan KMPO tinggi cenderung lebih berhasil karena kemampuan untuk membaca tanda-tanda verbal dan non verbal dari teman dan guru merupakan komponen penting dalam berbagai aktivitas belajar.

Sejumlah studi tersebut menegaskan bahwa dibandingkan dengan individu dengan KMPO rendah, individu dengan KMPO tinggi cenderung lebih memiliki peluang yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam berbagai bidang kehidupan. Ini juga mengimplikasikan bahwa individu dengan KMPO tinggu cenderung lebih berhasil dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan-tujuannya, dan keberhasilan ini akan memfasilitasi pencapaia tugas-tugas perkembangan atau mencapai perkembangan yang optimal dalam bidang akademik, probadi, sosial, dan karier. Oleh karena pengembangan KMPO pada peserta didik berpotensi dapat mendorong pencapaian keberhasilan.

PEMBAHASAN

Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Sekolah pada saat ini diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 111 Tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada pendidikan dasar dan menengah. Dalam peraturan tersebut dikemukakan bahwa Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik untuk mencapai kemandirian dalam kehidupannya (pasal 1), melalui upaya pencegahan, penanggulangan/perbaikan, dan pengembangan (pasal 2). Layanan bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik mencapai perkembangan optimal dan kemandirian secara utuh dalam aspek pribadi, belajar, sosial, dan karir (pasal 3). Layanan bimbingan dan konseling diberikan melalui empat komponen program, yakni: layanan dasar, layanan peminatan dan perencanaan individual, layanan responsif, dan layanan dukungan sistem guna mendukung perkembangan pribadi, sosial, belajar, dan karier (pasal 6).

Dalam rambu-rambu penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan Dan Tenaga Kependidikan pada Tahun 2007 dikemukakan pengertian dari masing-masing komponen layanan. Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh peserta didik melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok. Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada konseliyang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera melalui konseling individual, konseling krisis, konsultasi dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain. Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depan berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur, dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan.

Dalam kaitannya dengan layanan bimbingan dan konseling tersebut, pengembangan KMPO dapat dijadikan sebagai materi pelatihan dalam layanan dasar maupun sebagai strategi pendekatan untuk membantu peserta didik menangani kesulitannya. Jika dijadikan sebagai materi dalam layanan dasar, pengembangan KMPO dapat dilaksanakan secara terstruktur melalui aktivitas kelompok atau klasikal guna mengembangkan potensi sosial atau memperkembangkan pemahaman interpersonal peserta didik. pengertian terstruktur disini adalah bahwa pelatihan KMPO dapat dijadikan salah satu materi (kurikulum) dalam layanan dasar dan diberikan secara terjadwal dalam program bulanan, semesteran, atau tahunan. Tujuan dari program ini adalah sebagai langkah prefentif untuk menghindarkan peserta didik dari kemungkinan mengalami berbagai kesulitan/problema, khususnya berbagai bentuk perilaku menyontek, menjiplak, dan memaksakan kehendak melalui tindak kekerasan dan agresi, serta dan memfasilitasi peserta didik agar berhasil dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam bidang akademik, probadi, sosial, dan karier.

Pengembangan KMPO juga dapat dijadikan sebagai alternatif dalam layanan responsif untuk membantu individu menangani berbagai kesulitan atau permasalahan. Individu yang telah terlanjur mengalami permasalahan akademik (misalnya prestasi belajar rendah, sering mangkir dari sekolah, malas belajar dan senang menyontek), masalah pribadi (konsep diri negatif, harga diri rendah, tidak asertif, menarik diri, dan menyalahgunakan penggunaan obat), masalah sosial (kurang memiliki tanggung jawab sosial, senang melalukan tindak kekerasan atau agresi anto sosial), permasalahan karier (tak bisa membuat keputusan hidup atau pilihan karier), semuanya dapat dibantu dengan meningkatkan kemampuan KMPO nya. Sebab, berbagai permasalahan tersebut ada hubungannya dengan kegagalam dalam membangun relasi dengan orang lain, atau menjadi dampak lanjutan dari ketidak mampuan membangun komunikasi dan hubungan interpersonal yang efektif.

Tentang cara bagaimana mengembangkan KMPO dapat dilakukan dengan berbagai pilihan metode. Metode atau strategi mana yang paling efektif tak bisa dikemukakan di sini karena dalam bidang klinis dan konseling, keefektfan suatu metode dapat bervariasi menurut kemampuan konselor, karakteristik peserta didik (konseli) dan variabel-variabel pendukungnya. Namun sebagai acuan berikut adalah beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk menguji sejumlah metode, teknik, atau strategi untuk meningkatkan KMPO yang dapat dijadikan sebagai rujukan. Sebagai contoh, LeBalnc, Coates, & Lancaster (2003) dan Pecukonis (1997) dalam penelitiannya menemukan bahwa teknik pemodelan simbolik dengan menggunakan video (video modeling)dan penguatan (reinforcement) terbukti efektif untuk meningkatkan KMPO pada anak autis. Penelitian lain membuktikan keefektifan teknik bermain peran (role playing) untuk meningkatkan KMPO siswa (Chalmers & Townsend, 2008; Marsh, 1980; Pecukonis, 1997). Beberapa penulis dalam bidang KMPO juga merekomendasikan penggunaan videotape, case study, role play, branching exercise, & pair share of small group discussion and exercise (Gelbach & Metcalf, 2009), visual feedback, chair-work, dan forgiveness therapy (Day, Howells, Mohr, Schall, dan Gerace , 2008).

Karcher (2002) mengembangkan suatu strategi untuk mengembangkan KMPO pada peserta didik menagani berbagai kesulitan melalui suatu strategi konseling yang ia beria nama konseling pasangan (pair counseling). Pendekatan ini digunakan untuk membantu peserta didik bermasalah untuk mengembangkan tahapan-tahapan KMPO dari perspektif Selman dengan menggunakan tiga teknik: empowering, linking, dan enabling. Teknik empowering digunakan untuk membantu subyek mengartikulasikan perspektif dirinya (perspektif tunggal atau subyektif), yakni mengungkapkan keyakinan, keinginan, tujuan, dan perasaanya sendiri (beralih dari tingkat 0 ke 1). Teknik linking digunakan untuk menggabungkan perspektif dua subyek, yakni membantu pasangan untuk mengkoordinaksikan perspektif mereka (beralih dari tingkat 1 ke 2). Terjadinya koordinasi perspektif memungkinkan pasangan untuk bekerjasama membuat keputusan tentang tindakan apa yang paling tepat untuk merespon situasi/stimuli. Teknik enabling digunakan untuk membantu pasangan melihat akibat jangka panjang dari tindakan individual pada hubungan bersama/kolektif (membantu pasangan mengambil perspektif pihak ketiga; beralih dari tingkat 2 ke 3).

KESIMPULAN

Pengembangan KMPO pada peserta didik dapat mendorong peserta didik untuk mencapai keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan dan mencapai tugas-tugas perkembangan dalam bidang akademik, pribadi, sosial, dan karier. Pengembangan KMPO dapat dilakukan karena KMPO merupakan kemampuan yang dapat ditumbuh kembangkan dengan cara memberikan pengalaman untuk melakukan aktivitas-aktivitas dalam proses KMPO melalui pemberian bimbingan dan pelatihan. Pengembangan KMPO dalam konteks layanan bimbingan dan konseling sekolah dapat dijadikan sebagai salah satu materi yang diintegrasikan ke dalam layanan dasar, atau dijadikan sebagai salah satu strategi alternatif dalam layanan responsif untuk untuk membantu peserta didik menangani berbagai kesulitan atau permasalahan. Pengembangan KMPO dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik baik secara tunggak maupun integratif yang telah teruji.

DAFTAR PUSTAKA

Ames, D.L., Jenkins, A.C., Banaji, M.R., & Mitchell, J. (2008). Taking Another Person’s Perspective Increases Self-Referencial Neural Processing. Psychological Science, Vol. 19, No. 7, 642-644.

Bengtsoon, H., & Arvidsson, A. (2011). The Impact of Developing Social Perspective Taking Skills on Emotionality in Middle and Late Childhood. JournalofSocial Development, Vol. 20, No. 2, 353-367.

Chadwick, S., & Ralston, E. (2010). Perspective Taking in Structured and Unstructured Online Discussion. International Journal of teaching and Learning in Higher Education, Vol. 22, No. 1, 1-11.

Calderon, J. 2011. Perspective-Taking as a Tool for Building Democratic Societies. Diversity and Democracy. Civic Learning for Shared Futures. Vol. 14, No. 1.

Clayton, C.J. , Ballif-Spanvill, B., & Hunsaker, M.D. (2001). Preventing violence and teaching peace: A review of promising and effective antiviolence, conflict resolution, and peace programs for elementary school children. Apllied and Preventive Psychology, 10, pp. 1-35.

Epley, N., Caruso, E, M., & Bazerman (2006). When perspective taking increases taking: Rective egoisme in social interaction. Journal of Peronality and Social psychology, 91, no. 5., 872-889.

Epley, N., & Caruso, E,M. (2008). Perspektive-taking: Misstepping other’s shoes. Handbook of Imagination and mental simulation.

Epley, N., Caruso, E.M., & Bazerman, M.H. (2006). When Perspective Taking Increases Taking: Reactive egoism in Social Interaction. Journal of Personality and Social Psychology, 2006, Vol. 91, No.5, pp. 872-889

Galinsky, A.D., Ku, G., & Wang, C.S. (2005). Perspektive –Taking and self-other overlap: Fostering social bons and facilitating social coordination. Group Pocess & Intergroup Relations, 8, 109-124.

Galinsky, A.D., & Moskowitz, G.B. (2000). Perspective Taking: Decreasing Stereotype Expression, Stereotype Accessibility, and In-Group Favoritsm. Journal of Personality and Social Psychology, 2000, Vol. 78, No. 4, pp. 708-724.

Gehlbach, H., Brinkworth, M.E., & wang, Ming-Te. (2012). The Social perspective Taking Process: What Motivates Individuals to Take Another’s Perspective. Teacher College Record, Vol. 114, No. 1, 10-29.

Gehlbach, H., Young, L.V., & Roan, L.K. (2012). Teaching Social Perspective Taking: How Educators mignt Learn from the Army. Educational Psychology, Vol. 32, No. 3, 295-309.

Gore, N.J., Holmes, Y.B., & Murphy, G. 2010. The Relationship between Intellecctual Functioning and Relational Perspective Taking. International Journal of Psychology and Psychological Therapy, 2010, Vol. 10, No. 1, pp. 1-17

Hackney, H.L., & Cormier, L.S. (2001). The Professional Counselor. A Process Guide to Helping. Boston: Allyn & Bacon.

Harton, J.K. (2008). Pair Counseling for High School Students: Improving Friendship Skills, Interpersonal Relationship, and Behavior among Aggressive and Withdrawn Adolescence. International Journal of Play Therapy, 2008

Homeyer, L.E., & Morrison, M.O. (2008). Play Therapy: Practice, Issues, and Trends. American Journal of PLAY. the Board of Trustees of the University of Illinois

Hughes, F. (2003). Sontaneous play in the 21st century. In O. Saracho & Spodek (eds). “Contemporary Perspective on play early childhood education. Greenwich, CT: Infomation Age Publishing.

Karcher, M.J. (2002). The principles and practice of pair-counseling: a dyadic developmental. Play therapy for agressive, withdrwn, and socially immature youth. International Journal of Play Therapy, 11, 121-147.

Karcher, M.J. 2002. The Principles and Practice of pair Counseling: A Dyadic Developmental Play Therapy for Aggressive, Withdrawn, and Socially Immature Youth. International Journal of Play Therapy, 11 (2), 121-147.

Karcher, M.J., & Lewis, S.S. (2002). Pair-counseling: The effect of a dyadic evelopmental play therapy on interpersonal understanding and externalizing behaviors. International Journal of Play Therapy, 11, 19-41.

Karcher, M.J. tth. Pair Counseling Basics: ExcerKMPs from the Pair Ciunseling manual. Madison: Departement of Counseling Psychology The University of Winconsin.

LeBlanc, L., Coates, A, M., & Lancaster, B.M. (2003). Using Video Modeling and Reinforcement to Teach Perspective Taking Skills to Children with Autism. Journal of Applied Behavioral Analysis, 2003, No. 2, 36,253-257

Linck, L.J., Wohlberg, R.I., & Salmon, A.K. (2012). Creating a Culture of Thinking that Cultivate the Perspective-Taking Disposition. Proceeding of the 11th. bAnnual College of Education & GSN Research Conference (99-104). Miami: Florida International University. Diunduh dari http://education.fiu.idu/research_conference/

Maner, J.K., Luce, C.L., Neuberg, S.I., Cialdini, R.D., Brown, S., & Sagarin, B.J. (2002). The Effect of Perspective Taking on Motivations for Helping: Still No Evidence for Altruism. Personality and Social Psychology Bulletin, Vol. 28, No. 11, November, 2002, pp. 1601-1610.

McMillan, J.H. 2008. Educational research. Fundamentals for the Consumer. 5th. Ed. Boston: Pearson.

Mool, H., & Meltzoff, A.N. (2011). Perspective-Taking and its Foundation in Joint Attention. In N. Eilan, H. Lerman, & J. Roesler (eds.). Perception, causation, and Objectivity. Issues in Pshilosophy and Psychology, p. 286-304. Oxford, England: Oxford University Press.

O’Brien, E., Konrath, S.H., Gruhn, D., & Hagen, A.L. (2010). Empathic Concern and Perspective Taking: Linier anda Quadratic Effects of Sge Across the Adult Life Span. The Journal of Gerontology, Series B: Psychological Sciences and Social Sciences, doi: 10, 1093/geromb/gbs055

Roan, L., Strong, B., Foss., P., Yager, M., Gehlbach, H., & Metcalf, K. 2009. Social Perspective Taking. Arlington: United States Army Research Institute.

Rubenstein, R.s. 2012. Adolescent Social perspective Taking in Contexts of Social Justice: Examining Perceptions of Social Group Differences. Thesis. Thoronto: Departement of Huan Development for Applied Psychology, Ontario Institute for Studies in Education, University of Toronto.

Selman, R. L. (1980). The growth of interpersonal understanding: Developmental and clinical analyses. New York: Academic Press.

Selman, R.L., & Schultz. L.H. (1990). Making friend in youth: Developmental theory and pair-therapy. Chicago, IL: University of Chicago Press.

Selman, R.L. (2003). The promotion of social awareness: Powerful lesson from the partnership of developmental theory and classroom practice. New York: Russel Sage Foundation.

Schultz, L.H., & Selman, R.L. (1989). Bridging the gap between interpersonal thought and action in early adolescence. The role of psychodinamic processes. Development and Psychopathology, 1¸133-152.

Steedley, K.M., Schwartz, A.S., Levin, M., & Luke, S.D. (2011). Social skills and academic acheveent. Evidence for Education, Vol. III, Issue 2.

Steen, T. & Veen S.V. tth. Teaching perspective Taking: Why It’s Important – How it Might be Done. Holland: Departement of Economics, management, and Accounting Hope College.

Trotchell, R., Loschelder, D.D., Huffmeier, J., & Schwartz. K. (2011). Perspective taking as mans to overcome motivastional barriers in negotiations: when putting oneself into the opponent’s shoes helps to walk toward agreements. Journal of Personality and Social Pathology, 4, 771-790. ` x

Weyant, J.M. (2007). Perspective Taking as a Means of Reducing Negative Stereotyping of Individuals Who Spak English as a Second Language. Journal of Applied Social Psychology, 2007, 37, 4, pp. 703-716.

Wu, S., & Keysar, B. (2007). The effect of culture on perspective taking. Association for psycholical science, 2007, Vol. 18, No. 7, p. 600-606.

Zeng Li. (2011). Perspective Taking as a Moderator of the Relationship between Social Rejection and Altruism. International Journal of Psychological Studies, Vol. 3, No. 2, December 2011, pp. 64-75.

___________________________